Homonim: Pemicu Kepanikan Juru Bahasa

Listen to your heart!

Even if it’s on your left, you know it’s always right.

Hampir saya dilanda kepanikan gara-gara ungkapan kece dari pembicara motivasi yang sedang saya alih-bahasakan. Ungkapan itu timbul secara spontan; tidak ada wanti-wanti soal ‘left-right’ dan ‘heart’ dalam taklimat 10 menit sebelum kami naik panggung. “Sial, dikerjai bahasa Inggris, nih!” batin saya.

Perkara yang jadi biang masalah di ungkapan itu bukan kata heart, yang dalam bahasa Indonesia bisa mengacu pada ‘hati’ (kiasan) dan ‘jantung’ (harfiah). Yang bikin pasal itu justru si kata aneka makna (homonim) right, yang bisa jadi ‘benar’ dan ‘kanan’. Tidak ada satu kata dalam bahasa Indonesia yang punya makna ‘benar’ sekaligus ‘kanan’. Lalu bagaimana?

‘benar’ saya perlukan karena inilah mutu yang diacu oleh ‘heart’. ‘kanan’ saya butuhkan untuk alasan logika gaya bahasa: pertalian gaya putus kalau ‘kanan’ hilang, soalnya ada ‘left’. Lalu bagaimana?

Tik! Satu detik berlalu sejak pembicara diam.

Baik, abaikan homonim, pusatkan perhatian ke maksud ungkapan. Ada dua kalimat, dahulukan yang langsung dapat dialih-bahasakan.

“Ikuti suara hati Anda!” teriak saya lantang. Sip! Muncul suara hati, frasa yang alami dalam bahasa Indonesia. Sekarang tinggal pikir, kenapa suara hati harus didengarkan. Hm… Oke, heart memang di kiri, soalnya dia ‘jantung’. Eh, hati letaknya di mana? Sial!

Tik! Satu detik lagi berlalu sejak kalimat pertama saya terjemahkan. Hadirin diam, menunggu.

Oi, kenapa balik ke si ‘left-right’ lagi, sih? Fokus! Telisik si ‘benar’, apa lawannya? ‘salah’! Eh, sebentar, masak jadi “Sekalipun ada di tempat yang salah, Anda tahu ia selalu benar”? Bukan, ini bukan soal ‘tempat’. Oi, lupakan stilistika, utamakan maksud!

Tik! Satu detik lagi. Hadirin diam, mata mereka ke saya.

Di titik inilah saya berhasil mencegah kepanikan. Berpegang pada maksud, saya melanjutkan terjemahan, “Karena suara hati selalu menuju kebenaran.”

Mata hadirin kembali ke pembicara. Saya lega. Pembicara kembali melontarkan kalimat-kalimat sakti penggugah semangat. Sesi berjalan lancar sampai selesai. Tepuk tangan riuh. Musik penutup berdentum. Kami turun dari panggung, meninggalkan tempat acara, kembali ke hotel tempat kami menginap.

Sampai di kamar hotel, si homonim ini masih berlagak menantang saya. Pamer silat dia di dalam kepala.

“Awas, kau! Kali ini aku bukan lagi juru bahasa. Aku penerjemah, waktuku leluasa,” gumam saya sambil membuka komputer jinjing dan menuliskan kembali ungkapan bahasa Inggris tadi.

Setelah berkhayal selama lima menit, saya berhasil mengalih-bahasakannya menjadi seperti ini:

Ikuti suara hati Anda! Sekalipun ia terdengar seperti naluri, sesungguhnya ia nurani.

Cukup puas saya dengan hasilnya. Kendati logika ‘left-right’ tidak saya ikuti (karena memang mustahil), ‘naluri-nurani’, selain eufonis, juga punya kerangka semantik yang mirip dengan ‘left-right’. left, meskipun dalam ungkapan tadi bermakna harfiah ‘kiri’ (tempat si heart), tidak bisa tidak tertular makna ‘benar’ karena ‘left-right’ merupakan perbandingan, atau, lebih spesifik lagi, pertentangan. Dan ini diperkuat oleh adanya frasa penghubung even if (sekalipun). Walau left tidak semerta berarti ‘salah’, setidaknya dia boleh jadi ‘belum benar’. Itulah pijakan saya ketika memilih pertentangan ‘naluri-nurani’. naluri bukanlah hal yang selalu benar, sementara nurani iya.

Saya tersenyum lebar. Menang sudah saya melawan si pendekar homonim ini, baik sebagai juru bahasa (karena tidak jadi panik dan berhasil menyampaikan maksud dengan gaya dakwah serupa) maupun sebagai penerjemah (karena berhasil memunculkan hasil alih bahasa yang tepat dan indah).

Pengalaman ini kembali mengingatkan saya pada hakikat kejurubahasaan: tafsir, bukan terjemahan. Terbatasnya waktu mesti disikapi dengan strategis, dengan mengutamakan yang harus didahulukan: maksud. Tiga detik yang saya ceritakan di atas adalah tiga detik yang cukup mendebarkan, terutama karena saya ada di atas panggung, disorot lampu terang-terang, ditatap banyak orang.

Saya juga jadi semakin ingat: juru bahasa harus pintar-pintar memilih pintu menuju jalan makna yang tepat, dalam waktu yang singkat.

Saya menantikan pendekar homonim berikutnya. Maju sini!